Pembaca yang mulia, semoga Allah
senantiasa membimbing kita ke jalan yang diridloi-Nya dan menjaga kita
dari segala kejelekan. Tamu memiliki hak yang tinggi dalam syari’at
agama Islam. Menyambut, memuliakan dan menjamunya merupakan syiar Islam
yang harus dijaga. Demikianlah dakwah yang diemban oleh Rasulullah
shalallahu ‘alaihi wasallam untuk menyempurnakan akhlaq dan adab umat
manusia. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاَقِ
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq (umat manusia).”
Para pembaca, semoga rahmat Allah
senantiasa tercurah kepada kita semua, syi’ar ini merupakan bukti
kesempurnaan dan rahmat Islam terhadap umat manusia. Sampai-sampai
dikatakan oleh shahabat Abu Dzar Al Ghifari t (artinya):
“Rasulullah shalallahu ‘alaihi
wasallam telah meninggalkan kita dalam keadaan tiada seekor burung pun
yang mengepakkan sayapnya di udara melainkan pasti telah dijelaskan oleh
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam ilmunya kepada kita. Karena Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَا بَقِيَ شَيْءٌ يُقَرِّبُ مِنَ الْجَنَّةِ وَيُبَاعِدُ مِنَ النَّارِ إِلاَّ وَقَدْ بُيِّنَ لَكُمْ
“Tidak ada suatu perkara yang dapat
mendekatkan kepada Al Jannah (surga) dan menjauhkan dari An Naar
(neraka) kecuali telah dijelaskan kepada kalian semuanya.” (HR. Ath Thabrani, dalam Al Kabir 2/211)
Makna perkataan shahabat Abu Dzar
radhiallahu ‘anhu adalah bahwa seluruh perkara agama ini telah
dijelaskan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dengan sempurna
sampai perkara yang sekecil-kecilnya. Apalagi perkara tamu, tentunya
Islam merupakan agama yang terdepan dan paling sempurna dalam
memuliakannya.
Anjuran Memuliakan Tamu
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
وَ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ
بِاللهِ وَ الْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ وَ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ
بِاللهِ وَ الْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ
“Dan barangsiapa yang beriman kepada
Allah dan Hari Akhir, hendaknya memuliakan tetangganya, dan barangsiapa
yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaknya memuliakan tamunya.”
(Muttafaqun ‘Alaihi, dari shahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)
Al Imam Al Qadhi ‘Iyadh mengatakan: “Makna
hadits tersebut adalah bahwa barangsiapa yang berupaya untuk
menjalankan syari’at Islam, maka wajib bagi dia untuk memuliakan
tetangga dan tamunya, serta berbuat baik kepada keduanya.”
Dari hadits di atas terdapat beberapa kandungan yang mulia, diantaranya:
1. Memuliakan Tamu merupakan bentuk kewajiban
Di dalam hadits di atas memuliakan tamu merupakan sunnah (jalan/tuntunan)
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Bahkan, ia merupakan perintah
dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam yang sudah sepantasnya
seorang muslim yang mengaku cinta kepadanya untuk menjalankannya. Allah
subhanahu wata’ala berfirman: “Dan segala apa yang diperintah Rasulullah maka kerjakanlah, dan segala yang dilarang darinya maka tinggalkanlah.” (Al Hasyr: 7)
Allah subhanahu wata’ala memberitakan
lewat lisan Rasul-Nya yang mulia, bahwa perkara memuliakan tamu
berkaitan dengan kesempurnaan iman seseorang kepada Allah subhanahu
wata’ala dan hari akhir yang keduanya merupakan bagian dari rukun iman
yang enam yang wajib diyakini oleh setiap pribadi muslim. Sehingga salah
satu tanda kesempurnaan iman seseorang bisa diketahui dari sikapnya
kepada tamunya. Semakin baik ia menyambut dan menjamu tamu semakin
tinggi pula nilai keimanannya kepada Allah subhanahu wata’ala. Dan
sebaliknya, manakala ia kurang perhatian (meremehkan) terhadap tamunya,
maka ini pertanda kurang sempurnanya nilai keimanannya kepada Allah
subhanahu wata’ala.
Memuliakan Tamu adalah Akhlaq Para Nabi dan Orang-Orang Shalih
Para pembaca yang mulia, sungguh Allah
subhanahu wata’ala telah menyebutkan kisah-kisah mulia di dalam Al
Qur’an, yang demikian itu tidak lain sebagai pelajaran bagi kita semua.
Allah subhanahu wata’ala berfirman (artinya): “Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal.” (Yusuf: 111)
Allah subhanahu wata’ala telah
menyebutkan kisah Nabi Ibrahim ‘alaihis salam bersama tamunya. Ketika
Allah subhanahu wata’ala hendak mengaruniakan kepadanya seorang anak
yang ‘alim yang bernama Ishaq, Allah subhanahu wata’ala mengutus para
Malaikat untuk menyampaikan kabar gembira ini kepada beliau ‘alaihi
salam. Allah subhanahu wata’ala berfirman (artinya):
“Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad)
cerita tentang tamu Nabi Ibrahim (para Malaikat) yang dimuliakan?
(Ingatlah) ketika mereka masuk ke tempatnya lalu mengucapkan salam, Nabi
Ibrahim menjawab: salamun, (kalian) adalah orang-orang yang tidak
dikenal. Maka dia pergi dengan diam-diam menemui keluarganya, kemudian
dibawanya daging anak sapi yang gemuk. Lalu dihidangkannya kepada mereka. Nabi Ibrahim berkata: Silahkan kalian makan…” (Adz Dzariyat: 24-27)
Dari kisah yang mulia tersebut, kita bisa memetik beberapa pelajaran yang sangat berharga, di antaranya:
1. Menjamu dan memuliakan tamu merupakan millah (agama, petunjuk) Nabi Ibrahim ‘alaihi salam
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan umatnya diperintahkan untuk mengikuti millah-nya tersebut. Sebagaimana firman-Nya (artinya):
“Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad shalallahu ‘alaihi
wasallam); Ikutilah millah Nabi Ibrahim yang lurus, dan dia bukanlah
termasuk orang-orang yang berbuat syirik.” (An Nahl: 123)
2. Bersegera dalam menyambut dan menjamu tamu
Sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim ‘alaihi salam, dia bersegera untuk mendatangi keluarganya (فَرَاغَ إِلَى أَهْلِهِ) dan mempersiapkan hidangan untuk menjamu tamunya tersebut, tanpa harus menawari dulu kepada tamunya.
3. Menjawab salam dengan yang terbaik
Dalam ayat di atas juga terdapat tuntunan
dalam menjawab salam, yaitu dengan yang serupa atau yang lebih baik.
sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala (artinya):
“Apabila kamu dihormati dengan suatu
penghormatan (salam), maka balaslah penghormatan (salam) itu dengan yang
lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa).” (An Nisa’: 86)
4. Menghidangkan kepada tamu dengan hidangan yang paling baik
Sebagaimana yang dicontohkan Nabi Ibrahim ‘alaihi salam ketika menghidangkan daging anak sapi yang gemuk (عِجْلٍ سَمِيْنٍ) kepada para tamunya. Dan dalam ayat yang lain di dalam surat Hud dengan lafazh (عِجْلٍ حَنِيْذٍ ),
yakni daging anak sapi yang dipanggang. Makanan ini (daging anak sapi
yang dipanggang) merupakan makanan yang sangat lezat dan paling baik
pada waktu itu.
5. Meletakkan hidangan tersebut di dekat tamunya
Allah subhanahu wata’ala menyatakan فَقَرَّبَه إِلَيْهِمْ (Kemudian Nabi Ibrahim ‘alaihi salam mendekatkan hidangan itu kepada mereka).
Tidaklah Nabi Ibrahim meletakkan hidangan tersebut jauh dari tempat
para tamunya, dan tentunya hal ini lebih memudahkan bagi para tamu untuk
menikmati hidangan tersebut.
6. Menyambut/mengajak bicara dengan bahasa yang sopan dan baik
Nabi Ibrahim ‘alaihi salam mengatakan ketika menghidangkan makanannya:
أَلاَ تَأْكُلُوْنَ (Silahkan kalian makan) dan tidak mengatakan: كُلُوْا (makanlah). Menggunakan lafadz “Silahkan” atau yang semisalnya itu lebih sopan dan lebih baik pula daripada kalimat yang kedua.
Dan termasuk adab terhadap tamu adalah menjaga dan melindungi tamunya tersebut dari hal-hal yang bisa memudharatkannya.
Hal ini sebagaimana dilakukan oleh Nabi Luth ‘alaihi salam ketika
datang kepada beliau para Malaikat yang menjelma sebagai tamu yang
sangat tampan wajahnya. Kedatangan tamu-tamu tersebut mengundang fitnah
terhadap kaum beliau ‘alaihi salam dan mereka hendak berbuat Liwath (homoseks) terhadapnya, karena kaum Nabi Luth ‘alaihi salam adalah kaum yang telah biasa melakukan kemungkaran ini (Liwath). Suatu kemungkaran yang tidak pernah dilakukan oleh seorang manusia pun di muka bumi ini sebelumnya.
Maka Nabi Luth ‘alaihi salam pun berupaya
untuk menjaga dan melindungi tamunya tersebut dari kekejian yang hendak
dilakukan oleh kaumnya tersebut. Kisah ini bisa dilihat dalam surat Hud
ayat 77-83 dan surat Al Hijr ayat 67-71.
Demikian pula praktek para shahabat
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dalam menyambut dan menjamu tamu
sangatlah patut dijadikan uswah (suri tauladan) bagi umat Islam.
Tahukah anda siapakah shahabat Anshar?
Shahabat Anshar adalah para shahabat yang tinggal di negeri Madinah yang
siap membela dakwah nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam. Mereka
pulalah orang-orang yang dijadikan Allah subhanahu wata’ala sebagai
uswah dalam menyambut/menjamu tamu. Ketika para Muhajirin (para shahabat
yang berhijrah/pindah dari Makkah dan yang lainnya menuju Madinah)
telah sampai di kota Madinah, para shahabat Anshar berlomba-lomba untuk
menyambut dan menjamu mereka dengan sebaik-baiknya. Bahkan kaum Anshar
lebih mengutamakan kebutuhan kaum Muhajirin daripada kebutuhan diri
mereka sendiri, walaupun sebenarnya mereka sendiri pun sangat
membutuhkannya. Sehingga kisah ini Allah subhanahu wata’ala abadikan di
dalam Al Qur’an sebagai tanda kebersihan dan kejujuran iman para
shahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan sekaligus sebagai uswah (suri tauladan) bagi generasi sesudahnya. Sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala (artinya):
“… Dan mereka lebih mengutamakan kaum Muhajirin atas diri mereka sendiri walaupun mereka sendiri sangat membutuhkannya.” (Al Hasyr: 9)
Sehingga benarlah apa yang dikatakan oleh Al Imam An Nawawi: “Menjamu dan memuliakan tamu adalah termasuk adab dalam Islam dan merupakan akhlaq para nabi dan orang-orang shalih.” (Syarh Shahih Muslim)
Beberapa Hal Penting yang Perlu Diperhatikan dalam Menjamu Tamu
Para pembaca yang semoga dimuliakan oleh
Allah, agama Islam menganjurkan kepada pemeluknya agar menjamu tamunya
sesuai dengan petunjuk Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam.
Diantaranya adalah:
1. Anjuran untuk menjamu tamu selama tiga hari, jamuan hari pertama lebih istimewa daripada hari sesudahnya
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ
بِاللهِ وَ الْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ جَائِزَتَهُ .
قَالُوا: وَمَا جَائِزَتُهُ يَارَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: يَوْمٌ وَلَيْلَتُهُ
وَالضِّيَافَةُ ثَلاَثَةُ أَيَّامٍ فَمَا كَانَ وَرَاءَ ذَالِكَ فَهُوَ
صَدَقَةٌ عَلَيْهِ
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaknya memuliakan tamunya yaitu jaizah-nya.” Para shahabat bertanya, “Apa yang dimaksud dengan jaizah itu, wahai Rasulullah?” Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Jaizah
itu adalah menjamu satu hari satu malam (dengan jamuan yang lebih
istimewa dibanding hari yang setelahnya). Sedangkan penjamuan itu adalah
tiga hari adapun selebihnya adalah shadaqah.” (HR. Al Bukhari no. 6135 dan Muslim no. 1726, hadits dari Abu Syuraih Al ‘Adawi, lihat Fathul Bari hadits no. 6135)
2. Menjamu tamu sesuai dengan kemampuan
Dari Sulaiman radhiallahu ‘anhu, beliau berkata:
نَهَانَا رَسُوْلُ اللهِ r أَنْ نَتَكَلَّفَ لِلضَّيْفِ مَا لَيْسَ عِنْدَنَا
“Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam melarang kami memaksakan diri dalam menjamu tamu dengan sesuatu yang diluar kemampuan.” (HR. Al Bukhari, Ahmad, dan lainnya)
Akhir kata, semoga tulisan yang sederhana ini dapat memberikan tambahan ilmu yang bermanfaat bagi kita semua.

Sumber http://tutorialines.blogspot.com/2011/05/cara-pasang-tombol-back-to-top-pada.html#ixzz1mTO5TKOE
Under Creative Commons License: Attribution Non-Commercial
Tidak ada komentar:
Posting Komentar